Aqidah menurut Salaf

Untuk mengetahui akidah Salaf, maka perlu disimak ungkapan dari ulama Salaf itu sendiri.
     
Wakil Sultan (di Suriah tempat Ibnu Taimiyah bermukim, pen) bertanya tentang iktikad (Aqidah), maka Ibnu Taimiyah ra berkata: Aqidah bukan datang dariku, juga bukan datang dari orang yang lebih dahulu dariku tapi dari Allah SWT dan Rasul-Nya, dan apa yang diijma’i oleh para salaf umat ini diambil dari kitabullah dan hadits-hadits Bukhari dan Muslim serta hadits-hadits lainnya yang cukup dikenal dan riwayat-riwayat shahih dari generasi salaf umat ini. 

   Dan kata Ibnu Taimiyah: “Aku berkata: ‘Tidak! Demi Allah! Ini bukan khusus aliran Ahmad bin Hanbal. Tapi ia adalah akidah generasi salaf dan para Imam ahli hadits. Juga kukatakan: Ini adalah akidah Rasulullah Saw, dan setiap lafadz yang kusebutkan, aku sertai ayat atau hadits atau ijma’ para salaf dan kusebutkan orangnya yang mengutip atau meriwayatkan ijma’ dari para salaf kaum muslimin, fuqaha yang empat, ulama mutakallimin, ahli hadits dan para sufi.”

   Syeikh Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud dan Muhammad bin Abdul Wahab berkata: “Adapun hakikat akidah  kami adalah meyakini dengan hati, ikrar dengan lisan, dan amal perbuatan dengan anggota badan. Jika tidak demikian, mengapa orang-orang munafik masuk ke neraka paling bawah padahal mereka mengucapkan Laa ilaaha illallaah, bahkan mendirikan shalat, membayar zakat, mengerjakan puasa dan haji? 

   Sedang yang kalian sebutkan berupa hakikat ijtihad, kami bertaklid kepada Al-Qur’an dan Sunnah dan para salafus shalihin umat ini serta apa yang dipegang teguh oleh Imam yang empat: Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris (Syafi’i), dan Ahmad bin Hanbal (rahimahumullah). 

    Dan apa yang kalian tanyakan tentang hakekat iman, ialah tashdiq (pengakuan/ pembenaran) yang bertambah melalui amal-amal shaleh dan berkurang melalui pekerjaan-pekerjaan maksiat. Allah Ta’ala berfirman: 

    “Dan supaya orang-orang yang beriman bertambah imannya.” (QS Al-Muddatstsir: 31).
    Dan kami tak datang membawa ajaran yang menyalahi kitabullah dan sunnah. Mereka mengucapkan apa yang tidak mereka perbuat sedang kami berkata dan berbuat:
   “Besarlah kebencian (Allah) bahwa kalian mengucapkan apa yang tak kalian kerjakan.” (QS As-Shaaf:3). 

    Kami perangi para penyembah berhala seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. Juga kami perangi mereka yang meninggalkan shalat dan menolak membayar zakat sebagaimana yang pernah dilakukan oleh manusia paling jujur dalam sejarah umat ini yaitu Abu Bakar As-Shiddiq ra. Namun semuanya menjadi seperti apa yang dituturkan oleh Waraqah bin Naufal: “Tidaklah seseorang datang membawa apa yang kau bawa (hai Muhammad, pen) melainkan ia akan dimusuhi, disakiti, dan diusir!” 

    Muhammad bin Abdul Wahab berkata: “Dan bagi Allah lah segala puji, sedang aku bukanlah mengajak kepada madzhab sufi atau faqih atau mutakallim, atau imam dari para imam yang terbesar seperti Ibnul Qayyim, Adz-Dzahabi, Ibnu Katsir dan lainnya. Tetapi aku menyeru kepada Allah Yang Satu, tidak ada sekutu bagiNya, dan aku mengajak kepada Sunnah Rasulillah.


Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

Kunjungi juga:

SHARE

Berita Islam

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment

0 komentar:

Posting Komentar