KOREKSI PEMAHAMAN AHMADIYYAH DAN SALAMULLAH

Bagian 2;

Menurut Lia Aminuddin, ruh Nabi Muhammad menyapa dan menyatakan akan mengutarakan kesaksiannya bahwa Lia menerima ketentuan takdir Allah sehubungan dengan Kebangkitan Nabi Isa dalam sosok puteranya, Ahmad Mukti.
Menurut argumen Lia Aminuddin, Iblis tidak mungkin berada di sana dan menyaru sebagai Rasulullah.
Masih menurut pemikiran mereka, kegegabahan apa sehingga Iblis mampu mendekati makam Rasulullah dan menyatakan itu, sedangkan peristiwa itu dialami oleh dirinya di dalam masjid Nabawi yang menurutnya telah disucikan Allah, yang senantiasa dijaga oleh para malaikat sebagaimana Ka'bah dan Masjidil Haram. Seyogianyalah Allah tak akan membiarkan iblis mengganggu keabadian ajaran-Nya, yaitu ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam.
Baik Mirza Ghulam Ahmad maupun Lia Aminuddin, keduanya sama-sama mengklaimkan Qur'an surah Ash Shaff ayat 6 yang menyebutkan nama "Ahmad" yang dinubuatkan oleh Nabi Isa Almasih kepada kaumnya, Bani Israil adalah ditujukan bagi Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmad Mukti.
"Hai bani Israil ! Sesungguhnya aku, utusan Allah kepadamu, membenarkan Taurat yang sudah ada sebelumku, dan memberi khabar gembira tentang seorang Rasul sesudahku, bernama Ahmad ! Tapi ketika ia datang kepada mereka membawa keterangan, Mereka berkata, "Ini satu sihir yang nyata !". (QS. Ash Shaff 61:6)
Lalu sekarang, seberapa jauh kebenaran yang terkandung dalam pengakuan masing-masing Jemaah ini ?
Dalam ilmu logika, tidak mungkin 2 buah pernyataan yang saling berbeda memiliki nilai benar yang sama, satu diantaranya pasti ada yang salah ataupun kedua-duanya salah semua namun mustahil keduanya benar.
Beranjak dari sini, dengan satu maksud yang baik disertai penelaahan secara logika yang disertai penjabaran dari catatan sejarah dan al-Qur'an, kita akan mencoba mengupas polemik paham Mahdi dan al-Masih ini, terlepas apakah kita percaya terhadapnya ataupun sejauh mana penafsiran kita tentang hakekat polemik ini.
Anda percaya maupun tidak, menurut hemat saya, selama anda beriman kepada Allah secara Kaffah, mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad Saw dalam hal peribadahan maupun sosial kemasyarakatan, terlepas dari perbuatan-perbuatan nista dan bid'ah, InsyaAllah syurga akan menanti anda.
Hal yang hampir senada juga diungkapkan oleh Imam Abu Abdillah, Ja'far ash-Shadiq, salah seorang Imam besar Syi'ah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Sufyan bin As-Samath :
"Agama Islam itu adalah seperti yang tampak pada diri manusia, yaitu mengakui bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, mendirikan Sholat dan mengeluarkan zakat, melaksanakan ibadah haji serta berpuasa dibulan Ramadhan."
Lebih jauh juga diungkapkan oleh Imam Abu Ja'far, Muhammad al-Baqir, seorang ulama Syiah besar lainnya seperti tercantum dalam Shahih Hamran bin A'yan :
"Agama Islam dinilai dari segala yang tampak dari perbuatan dan ucapan. Yaitu yang dianut oleh segala kelompok-kelompok kaum Muslim dari semua firqah (aliran). Atas dasar itu terjamin nyawa mereka, dan atas dasar itu berlangsung pengalihan harta warisan. Dengan itu pula dilangsungkan hubungan pernikahan. Demikian pula pelaksanaan Sholat, zakat, puasa dan haji. Dengan semua itu mereka keluar dari kekufuran dan dimasukkan kedalam ke-Imanan."
at-Tirmidzi meriwayatkan sebuah Hadits Qudsi yang berasal dari Anas r.a, :
"Aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, bahwa Allah berfirman : 'Wahai anak Adam !, Selama engkau berdo'a dan mengharapkan (ampunan)-Ku, maka Aku pasti mengampuni apa saja yang telah engkau lakukan dan Aku tidak perduli. Wahai anak Adam ! Seandainya dosa-dosamu itu mencapai ketinggian langit, kemudian engkau meminta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku berikan ampunan kepadamu. Wahai anak Adam ! Seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa-dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menghadap Aku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, maka Aku pasti akan memberikan ampunan kepadamu sebanyak itu pula."
Dalam buku A. Syarafuddin al-Musawi yang berjudul "Isu-isu penting Ikhtilaf Sunnah-Syi'ah" yang sebelumnya juga pernah mengarang buku "Dialog Sunnah-Syi'ah" menyebutkan bahwa Syaikh Abu Tahir al-Qazwini dalam kitabnya "Siraj al-'Uqul" telah membantah hadist yang masyur yang menyebutkan :
"Akan terpecah-pecah umatku menjadi 73 golongan, satu golongan diantaranya yang selamat dan sisanya masuk neraka."
Bukan teks yang sebenarnya, adapun menurut data-data Hadist yang ada pada beliau berdasarkan beberapa riwayat dan saluran teks Hadist tersebut sebenarnya berbunyi :
"...Akan terpecah-pecah umatku menjadi 73 golongan, semuanya disyurga kecuali satu firqah." - dirawikan oleh Ibn an-Najr.
Apa yang dikemukakan oleh beberapa ulama Syi'ah diatas sangat bersesuaian sekali dengan penekanan al-Qur'an tentang ketinggian status seorang Muslim dan keagungan persaudaraan sesama mereka.
Tidak menjadi kafir seseorang yang menolak otoritas kepemimpinan beberapa sahabat pada masa awal mangkatnya Nabi Muhammad Saw sebagaimana tidak pula menjadi kafir seseorang yang menerima dan mengakui otoritas mereka semuanya, semua itu berdasarkan ijtihad masing-masing orang yang berbeda.
Dalam hal ini Nabi Muhammad Saw sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud pernah bersabda :
"Jika seorang Mujtahid (pencari keputusan dalam kerangka kebenaran) berusaha sendiri dan memberikan keputusan yang benar, maka dia mendapat dua pahala, namun jika penilaiannya itu keliru, dia masih akan mendapatkan satu pahala."
Adanya bentuk pengkafiran antara mereka yang mengaku dari firqah ahli Sunnah dan mereka yang berasal dari Syi'ah hanyalah disebabkan sifat kefanatismean masing-masing individu yang tidak ada hubungannya terhadap ajaran Islam sebenarnya, ulama-ulama besar Syi'ah dalam banyak bukunya tidak mengkafirkan mereka yang menolak untuk bergabung dengan pemahaman mereka, begitu juga sejumlah ulama-ulama ternama ahlu Sunnah, mereka tidak pula menjadikan para pencinta ahli Bait Rasul selaku manusia kafir yang wajib untuk diperangi.
Lalu sekarang bagaimana dengan pemahaman Jemaah Ahmadiyah maupun Salamullah yang menisbatkan diri para pemimpin mereka selaku orang-orang penerima wahyu kenabian dan ke-Mahdian ?
Mungkin akan mengundang perdebatan kontroversial, namun bagaimanapun mereka adalah Muslim, setidaknya begitulah yang kita lihat dan kita dengar dari penuturan mereka sendiri, masing-masing jemaah ini tetap mengakui bahwa mereka bertauhid kepada Allah dan mengimani Nabi Muhammad Saw, berdasarkan kacamata al-Qur'an dan Hadist, maka mereka adalah orang Islam dan mereka semua saudara kita.
Selaku orang Islam, ikatan persaudaraan yang mengikat jelas semakin kuat, hak-hak mereka selaku Muslim dan Muslimah harus tetap kita jaga, tidak ada alasan buat menumpahkan darah mereka.
Sementara itu, orang yang dianggap sebagai pimpinan tertinggi jemaah Syi'ah, Imam 'Ali bin Abu Thalib r.a, tidak pernah menisbatkan dirinya pribadi selaku pemimpin kaum Syi'ah, sepanjang hidupnya beliau tidak pernah ingin melihat umat Islam terpecah-belah bahkan beliau senantiasa mendahulukan perundingan perdamaian didalam setiap pertempuran yang dilakukan para musuhnya, hal ini juga yang diwarisi oleh kedua putera beliau, cucu kesayangan Rasulullah yaitu Hasan dan Husin r.a,.
Berbeda dengan Mirza Ghulam Ahmad maupun Lia Aminuddin, Khalifah ke-4 Ali bin Abu Thalib r.a, tidak juga pernah berkata bahwa dirinya selaku orang penerima wahyu kenabian maupun pengangkatan dirinya selaku Mahdi sebagaimana yang dijumpai pada pengakuan pemimpin Ahmadiyah dan Salamullah.
Timbulnya permasalahan Mahdi yang terdapat dalam jemaah Syi'ah secara umum disebabkan karena adanya beberapa nash yang dinisbatkan sebagai ucapan Nabi Saw yang menyatakan tentang kehadiran seorang manusia disuatu masa yang disebut al-Mahdi yang berasal dari garis keturunannya melalui Fatimah r.a dan Ali bin Abu Thalib.
Beberapa diantaranya :
"Dari Huzaifah, berkata : 'Rasulullah Saw bersabda: "al-Mahdi itu adalah seorang laki-laki dari anakku, wajahnya seperti bintang bercahaya."
(Riwayat Rauyani dan Abu Nu'aim)
"Dari 'Ali bin Abu Thalib dari Nabi Saw bersabda : "Seandainya masa itu hanya tinggal sehari, pastilah Allah mengutus seorang laki-laki dari ahli Baitku yang akan memenuhi masa itu dengan keadilan sebagaimana ia dipenuhi oleh kecurangan."
(Riwayat Abu Daud)
"Dari 'Aisyah r.a, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: al-Mahdi itu adalah seorang laki-laki dari keturunanku, ia berperang atas dasar sunnahku, sebagaimana aku berperang atas dasar wahyu."
(Riwayat Nu'aim ibn Hammad)
Banyak lagi berita-berita yang sehubungan dengan kedatangan Imam Mahdi yang dinisbatkan terhadap ucapan Nabi Muhammad Saw yang diriwayatkan oleh para Imam Syi'ah (ahli Bait Rasul). Salah satunya yang juga terkenal adalah :
"Dari 'Auf Ibn Malik r.a, bahwasanya Nabi Saw bersabda : "Akan datang fitnah yang gelap gulita, yang di-ikuti oleh fitnah-fitnah yang satu terhadap yang lain, sehingga keluarlah seorang laki-laki dari ahli Baitku yang disebut al-Mahdi. Maka apabila kamu menjumpainya, ikutilah dia dan jadilah kamu tergolong orang yang mendapat petunjuk."
(Riwayat Tabrani).
Dari sejumlah kecil Hadist yang ada diatas, tampak jelas bahwa manakala al-Mahdi yang berasal dari garis keturunan Rasulullah (tentunya merefer pada benih Hasan atau Husain putera Fatimah dan 'Ali) sudah tiba, maka umat Islam haruslah membantunya dan mengikutinya (istilah lainnya: melakukan Ba'iat) sebagaimana mereka pernah melakukan hal yang sama pada diri Nabi Muhammad Saw.
Namun meski begitu, paham ke-Mahdian yang dijumpai pada jemaah ini masih bisa diterima oleh pemikiran wajar oleh masyarakat Islam umumnya, meskipun sekali lagi masing-masing orang punya deskripsi berbeda tentang hal itu. 

"STUDI KRITIS PEMAHAMAN ISLAM"
Oleh ARMANSYAH

Sponsor link:

 
SHARE

Berita Islam

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment

0 komentar:

Posting Komentar