Langsung ke konten utama

TENTANG KHITAN WANITA

Pertanyaan:

Bagaimana  hukum  Islam  mengenai  khitan   bagi   anak-anak perempuan?
 
Jawaban:

Masalah ini diperselisihkan oleh para ulama bahkan oleh para dokter sendiri, dan terjadi perdebatan panjang mengenai  hal ini di Mesir selama beberapa tahun.

Sebagian  dokter  ada  yang  menguatkan  dan  sebagian  lagi menentangnya,  demikian  pula   dengan   ulama,   ada   yang menguatkan  dan  ada  yang menentangnya. Barangkali pendapat yang paling moderat, paling adil, paling rajih,  dan  paling dekat  kepada  kenyataan  dalam  masalah  ini  ialah  khitan ringan,  sebagaimana  disebutkan   dalam   beberapa   hadits - meskipun tidak  sampai  ke derajat sahih - bahwa Nabi saw. pernah menyuruh seorang perempuan yang berprofesi mengkhitan wanita ini, sabdanya:

 "Sayatlah sedikit dan jangan kau sayat yang berlebihan, karena hal itu akan mencerahkan wajah dan menyenangkan suami."

Yang  dimaksud  dengan  isymam ialah taqlil (menyedikitkan), dan yang dimaksud dengan laa tantahiki ialah laa tasta'shili (jangan  kau  potong  sampai  pangkalnya).  Cara  pemotongan seperti yang dianjurkan itu akan menyenangkan  suaminya  dan mencerahkan  (menceriakan)  wajahnya, maka inilah barangkali yang lebih cocok.

Mengenai masalah ini, keadaan di masing-masing negara  Islam tidak sama. Artinya, ada yang melaksanakan khitan wanita dan ada pula yang tidak. Namun  bagaimanapun,  bagi  orang  yang memandang  bahwa  mengkhitan  wanita  itu  lebih  baik  bagi anak-anaknya,  maka  hendaklah  ia  melakukannya,  dan  saya menyepakati   pandangan   ini,  khususnya  pada  zaman  kita sekarang ini. Akan hal orang yang tidak  melakukannya,  maka tidaklah  ia  berdosa,  karena  khitan  itu tidak lebih dari sekadar memuliakan wanita, sebagaimana kata para  ulama  dan seperti yang disebutkan dalam beberapa atsar.

Adapun  khitan  bagi  laki-laki,  maka  itu  termasuk syi'ar Islam, sehingga para ulama  menetapkan  bahwa  apabila  Imam (kepala  negara  Islam)  mengetahui  warga  negaranya  tidak berkhitan, maka wajiblah  ia  memeranginya  sehingga  mereka kembali  kepada  aturan  yang  istimewa yang membedakan umat Islam dari lainnya ini.




Sumber:
Fatwa-fatwa Kontemporer
- Dr. Yusuf Al-Qardhawi –

Sponsor link:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hadits ke-248 Dari Kitab Shahih al-Bukhari

Wudhu Sebelum Mandi

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، زَوْجِ النَّبِيِّ صلّى الله عليه وسلم " أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الجَنَابَةِ، بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي المَاءِ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ، ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ، ثُمَّ يُفِيضُ المَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ "
248. Abdullah bin Yusuf menyampaikan kepada kami dari Malik yang mengabarkan dari Hisyam, dari ayahnya, dari Aisyah istri Nabi 6 bahwa jika Nabi 6 hendak mandi janabah, beliau mengawalinya dengan membasuh tangannya, kemudian berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Setelah itu, beliau memasukkan jari jarinya ke dalam air dan dengan jari tersebut beliau menyela-nyela pangkal rambutnya. Lalu beliau menuangkan air ke kepala dengan tiga kali cidukan kedua tang…

Bagaimana Meng-Counter Gerakan Kristenisasi

Bagaimana Meng-Counter Gerakan Kristenisasi
Saat ini, generasi-generasi muda kaum muslimin, khususnya yang tinggal di Amerika dan Eropa, selalu dihadapkan pada gerakan kristenisasi yang dilakukan oleh umat Nashrani. Dimana mereka senantiasa mendatangi rumah-rumah kaum muslimin untuk menyampaikan dakwah mereka dan mengajak kaum muslimin untuk beribadah kepada Isa as. - wal 'iyadzu billah-, Apakah nasehat anda kepada mereka untuk dapat menghadapi gerakan kristenisasi yang bertubi-tubi tersebut? Dan kitab­kitab apakah yang berisikan nasehat-nesehat kepada kaum muslimin dalam menghadapi gerakan kristenisasi itu?
Jawab:
Kami nasehatkan kepada seluruh kaum muslimin untuk bersungguh-sungguh di dalam mempelajari agama Islam, dan bersungguh-sungguh di dalam mempelajari tentang dalil-dalil syahadataini,120syarat-sayaratnya, dan perkara-perkara apa saja yang terkandung di dalam kedua syahadat tersebut.
Di samping itu, kami nasehatkan juga kepada seluruh kaum muslimin untuk benar-b…

Hadits ke-135 Dari Kitab Shahih al-Bukhari

Shalat Tidak akan Diterima tanpa Bersuci

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الحَنْظَلِيُّ، قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ» قَالَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ: مَا الحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ؟، قَالَ: فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ
135. Ishaq bin Ibrahim al-Hanzhali menyampaikan kepada kami dari Abdurrazaq yang mengabarkan kepada kami, dari Ma’mar, dari Hammam bin Munabbih yang mendengar Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah 6 bersabda, “Shalat orang yang berhadats tidak akan diterima hingga dia berwudhu.“ Seorang laki-laki dari Hadhramaut berkata, “Apa yang dimaksud dengan hadats, wahai Abu Hurairah?“ Abu Hurairah menjawab, “Kentut, baik dengan suara atau tidak.“ (Lihat hadits no. 6954).

(Kitab Hadits Shahih al-Bukhari)

Bisnis: jaket baseball onlinejual jaket baseball murah