Langsung ke konten utama

Apakah keimanan kepada Isa as. cukup untuk menyelamatkan seseorang dari siksa api neraka dan mendapatkan ridha Allah serta surga-Nya?

Apakah keimanan kepada Isa as. cukup untuk menyelamatkan seseorang dari siksa api neraka dan mendapatkan ridha Allah serta surga-Nya?

Jawab:

Beriman kepada nabi Isa as, adalah salah satu bagian dari rukun-rukun iman yang enam, yaitu; beriman kepada Allah swt., beriman kepada malaikat-malaikat-Nya, beriman kepada kitab­ kitab-Nya, beriman kepada rasul-rasul-Nya, dan seterus-nya. Beriman kepada nabi Isa as. adalah bagian dari beriman kepada rasul-rasul-Nya. Karena Isa as. adalah salah satu rasul Allah yang telah diutus-Nya.

Di samping itu, setiap kaum muslimin juga diwajibkan untuk beriman kepada segala sesuatu yang disebutkan di dalam al-Qur`an dan as-Sunnah; baik itu yang disebutkan secara global mapun yang disebutkan secara terperinci. Karena itu pula, kita pun diwajibkan untuk beriman terhadap segala sesuatu yang disebutkan oleh al-Qur`an dan as-Sunnah mengenai nabi Isa as., dan di antaranya, bahwa nabi Isa as. diciptakan dengan kalimat Allah, bahwa nabi Isa as. adalah salah satu ruh dari ruh­ruh yang diciptakan-Nya, bahwa Allah swt. menguatkannya dengan mukjizat-mukjizat yang sebagiannya ada disebutkan di dalam al­ Qur`an.

Begitu pula halnya dengan berita-berita yang disebutkan di dalam hadits-hadits mengenai nabi Isa as., di antaranya adalah hadits Ubadah yang diriwayatkan secara marfu', "Bahwa Isa as. adalah hamba Allah dan rasul-Nya, serta kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan ruh dari-Nya."103

Apabila beriman kepada nabi Isa as. dan risalahnya merupakah salah satu bagian dari rukun iman, maka tidaklah cukup dengan hanya beriman kepadanya. tanpa memperhatikan rukun­rukun iman yang enam lainnya, serta rukun-rukun Islam dan hukum­hukum syari'at yang lainnya, untuk mendapatkan ridha Allah dan mendapat-kan surga-Nya serta selamat dari siksa api neraka-Nya. Sebab, hal itu hanya akan bisa didapatkan dengan keimanan yang sempurna dan pelaksanaan hukum-hukum syari'at dengan baik dan benar, serta benar-benar mempercayai para rasul secara keseluruhan, meyakini segala sesuatu yang dikisahkan oleh Allah swt. di dalam at-Qur`an, beriman dengan adanya hari kebangkitan dan pembalasan, serta mengiringi semua itu dengan senantiasa mengerjakan amal shalih serta meninggalkan perbuatan musyrik, bid'ah, dan yang diharamkan. Wallahu A'lam.

catatan kaki:

103 Diriwayatkan oleh imam Bukhari dengan nomor hadits (3435), di dalam kitab, Ahaditsul Anbiyaa`, bab; "Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Atlah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari­Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasuf-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan:"(Ilah itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Ilah Yang Maha Esa, Maha Suci Aflah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara." (QS. an-Nisaa` (4):171), dari Ubadah-radhiallahu `anhu-, dan hadits ini merupakan bagian dari hadits Rasulullah saw., "Barangsiapa yang bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah yang Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, serta Isa adalah hamba, rasul-Nya, dan kalimat-Nya,...dan seterusnya." Diriwayatkan juga oleh iam Muslim dengan nomor hadits (28), di dalam kitab "Dalil `alo Man Mata `alo at-Tauhiid", dan Ahmad di dalam kitab Musnad (5/ 313) dari Ubadah ibnu Shamit -radhiallahu `anhu-.


Sponsor link:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hadits ke-248 Dari Kitab Shahih al-Bukhari

Wudhu Sebelum Mandi

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، زَوْجِ النَّبِيِّ صلّى الله عليه وسلم " أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الجَنَابَةِ، بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي المَاءِ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ، ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ، ثُمَّ يُفِيضُ المَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ "
248. Abdullah bin Yusuf menyampaikan kepada kami dari Malik yang mengabarkan dari Hisyam, dari ayahnya, dari Aisyah istri Nabi 6 bahwa jika Nabi 6 hendak mandi janabah, beliau mengawalinya dengan membasuh tangannya, kemudian berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Setelah itu, beliau memasukkan jari jarinya ke dalam air dan dengan jari tersebut beliau menyela-nyela pangkal rambutnya. Lalu beliau menuangkan air ke kepala dengan tiga kali cidukan kedua tang…

Bagaimana Meng-Counter Gerakan Kristenisasi

Bagaimana Meng-Counter Gerakan Kristenisasi
Saat ini, generasi-generasi muda kaum muslimin, khususnya yang tinggal di Amerika dan Eropa, selalu dihadapkan pada gerakan kristenisasi yang dilakukan oleh umat Nashrani. Dimana mereka senantiasa mendatangi rumah-rumah kaum muslimin untuk menyampaikan dakwah mereka dan mengajak kaum muslimin untuk beribadah kepada Isa as. - wal 'iyadzu billah-, Apakah nasehat anda kepada mereka untuk dapat menghadapi gerakan kristenisasi yang bertubi-tubi tersebut? Dan kitab­kitab apakah yang berisikan nasehat-nesehat kepada kaum muslimin dalam menghadapi gerakan kristenisasi itu?
Jawab:
Kami nasehatkan kepada seluruh kaum muslimin untuk bersungguh-sungguh di dalam mempelajari agama Islam, dan bersungguh-sungguh di dalam mempelajari tentang dalil-dalil syahadataini,120syarat-sayaratnya, dan perkara-perkara apa saja yang terkandung di dalam kedua syahadat tersebut.
Di samping itu, kami nasehatkan juga kepada seluruh kaum muslimin untuk benar-b…

Hadits ke-135 Dari Kitab Shahih al-Bukhari

Shalat Tidak akan Diterima tanpa Bersuci

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الحَنْظَلِيُّ، قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ» قَالَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ: مَا الحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ؟، قَالَ: فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ
135. Ishaq bin Ibrahim al-Hanzhali menyampaikan kepada kami dari Abdurrazaq yang mengabarkan kepada kami, dari Ma’mar, dari Hammam bin Munabbih yang mendengar Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah 6 bersabda, “Shalat orang yang berhadats tidak akan diterima hingga dia berwudhu.“ Seorang laki-laki dari Hadhramaut berkata, “Apa yang dimaksud dengan hadats, wahai Abu Hurairah?“ Abu Hurairah menjawab, “Kentut, baik dengan suara atau tidak.“ (Lihat hadits no. 6954).

(Kitab Hadits Shahih al-Bukhari)

Bisnis: jaket baseball onlinejual jaket baseball murah